Urgensi Keamanan Ruang Publik di Indonesia;

Kenali Pelecehan Seksual

 

Maraknya Kasus Pelecehan Seksual; Jangan Remehkan.

 

Kasus pelecehan seksual dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang cukup drastis. Meski menjadi isu yang kerap terjadi dimana saja, kapan saja, dan dapat menyerang siapa saja, pelecehan seksual tidak dapat dikatakan sebagai suatu hal yang lumrah. Pasalnya, pelecehan seksual tidak hanya menyerah kondisi mental seseorang, tetapi juga merampas harkat martabat seorang manusia.

 

Perlu diketahui juga, kini seluruh bentuk dari pelecehan seksual dapat dikategorikan atau diklasifikasikan sebagai suatu kekerasan seksual mengingat dalam KUHP perilaku tersebut masih diklasifikasikan sebagai tindakan pencabulan. Pelecehan seksual ini dapat terjadi tanpa memandang gender atau yang dapat diartikan hal ini dapat terjadi kepada siapa saja dan juga dimana saja tanpa pandang bulu. Dalam hal ini, ancaman pelecehan seksual tidak hanya menyerang perempuan, tetapi juga laki-laki.

 

Catatan Tahunan (CATAHU) Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang diterima oleh berbagai lembaga masyarakat maupun institusi pemerintah yang tersebar di hampir semua Provinsi di Indonesia, serta pengaduan langsung yang diterima oleh Komnas Perempuan melalui Unit Pengaduan Rujukan (UPR) maupun melalui surel (email) resmi Komnas Perempuan, dalam kurun waktu satu tahun ke belakang. Berdasarkan pada data-data yang telah terkumpul tersebut, tercatat kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di ranah komunitas / publik sebesar 21% (1.731 kasus) dengan kasus yang paling menonjol adalah kekerasan seksual sebesar 962 kasus (55%) yang terdiri dari pencabulan (166 kasus), perkosaan (229 kasus), pelecehan seksual (181 kasus), persetubuhan sebanyak 5 kasus, dan sisanya adalah percobaan perkosaan dan bentuk kekerasan seksual lainnya. Istilah pencabulan masih digunakan oleh Kepolisian dan Pengadilan karena merupakan dasar hukum pasal-pasal dalam KUHP untuk menjerat pelaku. 

 

Lebih lanjut, berdasarkan survei dari Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA), empat dari lima perempuan mengalami pelecehan seksual di ruang publik maupun fasilitas umum. Survei yang diselenggarakan oleh KRPA ini dilakukan di 34 provinsi secara daring dengan total jumlah responden 4.236 yang terdiri atas 3.539 responden perempuan, 625 responden laki-laki, dan 72 responden dari gender lainnya. Adapun tempat kejadian perkara pelecehan seksual juga terpecah menjadi ruang publik online maupun offline dengan beragam aksi pelecehan.

 

Melihat maraknya kasus ini, Departemen Kajian Strategis Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Tarumanagara melakukan interview kepada masyarakat untuk mengetahui urgensi dan juga memberikan edukasi terkait dengan pelecehan seksual di Indonesia kepada masyarakat umum yang dalam hal ini secara khusus terjadi di ruang publik. Oleh sebab itu, pertanyaan awal yang telah diberikan kepada masyarakat bermuara kepada definisi dari pelecehan seksual itu sendiri. Menurut Pak Agus, pelecehan seksual merupakan tindakan yang tidak manusiawi, melihat tindakan tersebut tidak sesuai dengan Dasar Negara Indonesia yaitu Pancasila. Farley (1978), berpendapat dalam bukunya sexual shakedown, pelecehan seksual berwujud rayuan seksual yang tidak dikehendaki penerimanya, rayuan tersebut timbul dengan beragam bentuk baik yang halus, kasar, terbuka, fisik maupun verbal dan bersifat searah. Adapun juga bentuk pelecehan seksual yaitu Pelecehan gender, perilaku menggoda, dan pelanggaran seksual. Pelecehan seksual merupakan ungkapan cabul tentang seks dari gender tertentu terhadap gender lainnya, perilaku menggoda adalah ajakan yang ditolak berkali-kali bersifat seksual akhirnya memaksa seperti ajakan kencan, dan pelanggaran seksual berarti menyentuh, meraba, memegang bagian tubuh tanpa persetujuan (secara paksa). Namun, perlu diketahui bahwa dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang menjadi dasar acuan pidana di Indonesia ini tidak mengenal adanya pelecehan seksual melainkan disebut sebagai perbuatan cabul. Diatur dalam Pasal 281 KUHP, perbuatan cabul itu merupakan “Barangsiapa yang dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap kesusilaan orang lain dan dianggap bertentangan.” Kemudian dapat disimpulkan, pelecehan seksual merupakan tindakan tidak terpuji yang dilakukan secara sadar maupun tidak sadar, dan menimbulkan ketidaknyamanan yang dirasakan oleh orang lain atas tindakan dari sang pelaku tersebut.

 

Persepsi dari tindakan pelecehan seksual masing-masing orang tentunya akan berbeda. Oleh sebab itu, melalui public interview pada episode ini Departemen Kajian Strategis BEM Universitas Tarumanagara akan memberikan pandangan yang luas mengenai tindakan pelecehan seksual tersebut. Menurut Jordie, pelecehan seksual bisa dimulai dari hal yang sering kita jumpai, atau mungkin pernah kita rasakan, seperti catcalling dan juga sentuhan. Benar adanya, perilaku merendahkan seorang atau lebih oleh karena gender merupakan pelecehan seksual. Tak hanya itu, perilaku menggoda yang dilakukan di lingkungan umum juga termasuk pelecehan seksual. Selebihnya merupakan tindakan yang lebih tidak terpuji, seperti pemaksaan seksual, menjanjikan sesuatu setelah berhubungan intim, dan melakukan sentuhan fisik yang disengaja. 

 

Penyebab Pelecehan Seksual; Korban atau Pelaku?

Pelecehan seksual merupakan suatu hal yang menimbulkan ketidaknyamanan karena perlakuan seorang atau lebih kepada seorang yang lain, disebut sebagai pelecehan seksual. Sebuah contoh umum mengenai hal ini adalah ketika perempuan diminta untuk melakukan perbuatan seksual dengan imbalan akan diberikan pekerjaan, atau promosi, atau kenaikan gaji. Menurut Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban. Ia termasuk menggunakan siulan, main mata, ucapan bernuansa seksual, mempertunjukan materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan

 

Perlu ditekankan jika apapun faktor dari korban yang menyebabkan terjadinya pelaku melakukan pelecehan seksual itu sangat salah besar, karena tidak ada satupun alasan yang dapat membenarkan terjadinya pelecehan seksual tersebut. Mengacu pada konsep yang disampaikan oleh Susetiawan (1997) dijelaskan bahwa pelecehan seksual terjadi sebagai hasil pemikiran pria. Melalui public interview Departemen Kajian Strategis, Ibu Aprilya yang merupakan seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) mengatakan bahwa kurangnya kepedulian pelaku membuat timbulnya keinginan pelaku untuk memuaskan dirinya. Tak hanya itu, pelaku tidak dapat mengendalikan hawa nafsu, terkadang hawa nafsu pelaku muncul begitu saja jadinya walaupun ada korban yang memakai pakaian sangat tertutup, bisa saja tetap dilecehkan. 

 

Oleh sebab itu kewaspadaan sangat dibutuhkan untuk mengurangi terjadinya pelecehan seksual, beberapa hal yang dapat kita lakukan yaitu apabila kita melihat akan terjadinya kejadian ini, maka kita dapat menghampiri target dari pelaku, agar pelaku tidak melakukan pelecehan seksual. Ketika sendiri, hindari tempat yang sepi dan gelap, karena pelaku menganggap keadaan atau suasana seperti itu sangat mendukung untuk melakukan keinginannya. 

 

 

 

REFERENSI

 

Narasumber Bapak Agus Waluyo, Michael Jordy, Ibu Aprilya

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)

Catatan Tahunan (CATAHU) Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan)

https://www.kompas.com/sains/read/2021/12/12/130200423/kekerasan-seksual-semakin-terkuak-apa-penyebabnya-ini-kata-komnas?page=all

https://nasional.tempo.co/read/1584560/ketahui-kekerasan-seksual-berbasis-elektronik-yang-diatur-dalam-uu-tpks

https://www.liputan6.com/health/read/4155441/3-faktor-penyebab-seseorang-jadi-pelaku-kekerasan-seksual

https://health.detik.com/hidup-sehat-detikhealth/d-1399327/7-alasan-orang-melakukan-pelecehan-seksual

https://news.detik.com/berita/d-5799370/geger-kabar-mahasiswi-unri-diciumi-dosen-saat-bimbingan-skripsi

https://www.kompas.com/sains/read/2020/12/05/200500323/mengenal-5-jenis-pelecehan-seksual-termasuk-komentar-cabul-dan-penyuapan?page=all

https://komnasperempuan.go.id/instrumen-modul-referensi-pemantauan-detail/15-bentuk-kekerasan-seksual-sebuah-pengenalan

http://repository.untag-sby.ac.id/1646/2/Bab%20II.pdf