menyelami masa kelam Indonesia

Tahun 1965 menjadi tahun yang paling menderita bagi seluruh Rakyat Indonesia. Pada tahun tersebut banyak sekali masyarakat yang harus kehilangan jiwanya karena menjadi korban pembunuhan massal pada Gerakan 30 September ini . Namun seiring berkembangnya zaman dan generasi, pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah “Apakah masyarakat terutama mahasiswa mengetahui secara detail apa itu Gerakan 30 September? Bagaimana G30S 1965 dapat terjadi?.”

Oleh sebab itu, kami (BEM UNTAR) membuat kajian dalam rangka memperingati G30S guna menambah wawasan serta mengingatkan kita atas sejarah yang memilukan bangsa.

 

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarah.”

Ir. Soekarno

 

LATAR BELAKANG

Gerakan 30 September atau yang biasanya disebut G30S merupakan sebuah sejarah kelam yang menjadi saksi kekejaman partai komunis pada zaman tersebut. Pada faktanya sejarah memang tidak akan pernah terulang, namun pola nya bisa terulang dan menjadi bentuk yang baru. Bahkan tidak menutup kemungkinan kejadian serupa dapat kembali terjadi. Sehingga memang seharusnya bahwa peristiwa G30S ini perlu diingat seumur hidup.

Menurut Widja (1989:101) Sejarah dalam salah satu fungsi utamanya adalah mengabadikan pengalaman masyarakat diwaktu yang lampau yang sewaktu-waktu bisa menjadi bahan pertimbangan bagi masyarakat dalam  memecahkan problem-problem yang dihadapinya. Melalui sejarahlah nilai-nilai masa lampau dapat dipetik dan dimanfaatkan untuk menghadapi masa kini. Tanpa masa lampau orang tidak akan mampu membangun ide-ide tentang konsekuensi dari apa yang dia lakukan.

Peristiwa Gerakan 30 September merupakan peristiwa Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pada saat itu akan melakukan perebutan kekuasaan terhadap kepemimpinan Soekarno dan berencana menjadikan Indonesia menjadi negara komunis. Perebutan kekuasaan yang akan dilakukan PKI saat itu memakan korban 7 orang jenderal di kalangan angkatan darat di Jakarta dan dua orang di Yogyakarta. Peristiwa 1965, sebuah tragedi kemanusiaan yang dalam sejarah bangsa ttidak hanya menimbulkan korban dari kalangan Angkatan Darat (AD) tapi juga ribuan rakyat sipil yang tidak tahu menahu mengenai peristiwa tersebut karena dianggap terkait dengan PKI.

Banyak orang berpendapat bahwa ideologi komunisme perlu ditentang. Sebagian berpendapat bahwa ideologi ini ditentang karena trauma masa lalu bangsa Indonesia yang menyebabkan bubarnya Partai Komunis Indonesia. Tapi tanpa disadari, sebenarnya banyak dari mereka yang bahkan tidak mengetahui arti ideologi komunisme sebenarnya.

 

 

Apa sebenarnya arti ideologi komunisme itu?

Penggunaan istilah komunis dalam hasil karya Karl Max dan Engel (dengan sebutan manifesto komunis) memberikan pengertian yang bersifat revolusioner sembari terus mengusung keinginan mereka untuk “bersama”, bersama dalam hal milik maupun menikmati sesuatu.

Lantas kenapa ideologi ini perlu ditentang? Hal ini dikarenakan ideologi komunisme pada dasarnya tidak sesuai dengan kepribadian masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia yang menganut prinsip Ketuhanan YME bertentangan dengan prinsip komunisme. Dalam ideologi komunisme, HAM yang pada saat ini ditegakkan oleh seluruh masyarakat Indonesia menjadi diabaikan. Hal hal tersebut jelas bertolak belakang dengan ideologi yang kita anut, yaitu, ideologi Pancasila.

Inilah beberapa latar belakang yang mendasari terjadinya G30S:

  1. Pembentukan angkatan kelima

    Pada tahun 1965, ketika usulan dari ketua PKI, D.N. Aidit untuk membentuk angkatan kelima yang terdiri dari kaum buruh dan tani yang dipersenjatai, Indonesia sendiri telah memiliki empat angkatan, diantaranya, angkatan laut, darat, udara, dan kepolisian. Sehingga, Ahmad Yani, selaku Panglima Angkatan Darat menilai bahwa hal itu tidaklah efisien. Selain itu, Laksamana Muda Martadinata yang menolak atas nama Angkatan Laut. Saat itu, Keberadaan PKI dan AD sejajar, sehingga AD dianggap penghalang besar PKI.

  2. NASAKOM

    Ketika pada Juli 1959 parlemen dibubarkan dan Soekarno mengeluarkan ketetapan konstitusi berupa dekrit Presiden, ia mendapat dukungan penuh dari PKI. Angkatan bersenjata diperkuat dengan mengangkat jendral – jendral militer ke posisi yang penting, dengan sistem Demokrasi Terpimpin. Sambutan PKI untuk Demokrasi Terpimpin sangat baik dan menganggap bahwa Soekarno mempunyai mandat untuk persekutuan konsepsi antara pendukung Nasionalis, Agama dan Komunis atau NASAKOM. Namun, seperti dikatakan Ahmad Yani, Angkatan Darat menolak ideologi NASAKOM.

  3. Konfrontasi Malaysia

    Konfrontasi Malaysia merupakan faktor pemicu terjadinya gerakan G30S. Terjadinya gerakan anti Indonesia di Kuala Lumpur yang menyebabkan PM. Malaysia Tunku Abdul Rahman menginjak lambang garuda, membuat Soekarno murka. Hal inilah yang mendekatkan Soekarno dengan PKI. Saat itu, Soekarno menyerukan pembalasan terhadap Malaysia dengan slogan “Ganyang Malaysia”, namun Panglima Angkatan Darat Ahmad Yani menolak untuk melakukan pembalasan tersebut dengan alasan Malaysia masih dibantu oleh Inggris dan ia menilai bahwa tentara tidak memadai untuk melawan mereka. Namun, A.H. Nasution menyetujui pembalasan itu dikarenakan kekhawatiran akan PKI yang memanfaatkan manfaat itu sebagai alasan memperkuat posisinya dalam politik Indonesia. Akibat keragu-raguan dalam melakukan pembalasan ini, TNI AD akhirnya kalah berperang dan menimbulkan kekecewaan pada Soekarno. Hal ini menyebabkan Soekarno mencari dukungan kepada PKI yang memang memanfaatkan kesempatan ini untuk memperkuat posisinya.

 

 

PEMBAHASAN

Namun selain pandangan diatas,

terdapat beberapa pandangan akan siapa sebenarnya yang mendalangi peristiwa kelam ini, pandangan tersebut di antaranya:[1]

  1. Pandangan para akademisi dari Universitas Cornell, Amerika Serikat.[2]

    Menurut pandangan ini, peristiwa G30S 1965 merupakan masalah internal dalam tubuh Angkatan Darat, khususnya kelompok militer yang berasal dari Divisi Diponegoro, Jawa Tengah.

    Dalam pandangan para perwira menengah, para perwira tinggi AD setelah pindah ke ibukota Jakarta, pola hidupnya sudah menyimpang dari nilai-nilai ’45. Hal itu dipertegas oleh pernyataan Letkol Untung sendiri, setelah ia berhasil membentuk dan mengumumkan adanya Dewan Revolusi pada tanggal 1 Oktober 1965, bahwa tujuan G30S adalah: […] untuk mengikis habis pengaruh Dewan Jendral dan kaki tangannya dalam AD. […] yang gila kuasa, yang menterlantarkan nasib anak buah, yang di atas tumpukan penderitaan anak buah hidup bermewah-mewah dan berfoya-foya, menghina kaum wanita, dan menghambur-hamburkan uang negara […]

    [1] Suwirta, Andy. Mengkritisi Peristiwa G30S 1965: Dominasi wacana sejarah orde baru dalam sorotan. hlm 65

    [2] Lihat Benedict R.O’G. Anderson and Ruth T.Mc Vey, A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia (Ithaca, New York: Cornell University, 1971).

  2. Pandangan seorang sejarawan Barat, Antonie C.A. Dake.

    Pandangan ini menganggap Presiden Soekarno lah dalang utama peristiwa G30S. Pada masa itu, AD seringkali berseteru dengan Presiden Soekarno karena perilaku politik para perwira TNI AD pada tahun 1950an dan awal tahun 1960an, acapkali bertentangan dengan kepemimpinan dan kepentingan politik Presiden Soekarno.[3] Itulah sebabnya Soekarno “merestui” tindakan Letkol Untung untuk “mengamankan” para Jendral AD pada 30 September 1965. Soekarno juga pada tanggal 1 Oktober 1965 berada di daerah Halim, tempat para pelaku utama G30S itu bermarkas. Dan ketika Brigjen Soepardjo, salah seorang pelaku utama G30S 1965, melaporkan bahwa para Jendral AD itu sudah “dibereskan”, Soekarno segera memeluk perwira tinggi itu dan menepuk-nepuk punggungnya.

    Dalam setiap kesempatan, setelah peristiwa G30S itu berlalu, Soekarno menyatakan bahwa peristiwa itu merupakan “riak kecil dalam sebuah gelombang samudera revolusi Indonesia yang dahsyat”. Soekarno juga tidak menunjukkan sikap empati atas kematian para jendral AD dengan tidak menghadiri prosesi pemakamannya dan tidak mau mengutuk PKI sebagai dalang utama peristiwa itu sebagaimana dituntut oleh pihak AD.

    [3] Ulf Sundhaussen, Politik Militer Indonesia 1945-1967: Menuju Dwi Fungsi ABRI, Terjemahan (Jakarta: Penerbit LP3ES, 1986)

  3. Pandangan seorang sosiolog dan sejarawan Belanda, W.F. Wertheim.

    Pandangan ini menganggap Jendral Soeharto lah dalang dari peristiwa ini. Hal ini dikarenakan ketiga pelaku utama G30S yaitu Kolonel Untung, Letkol Latief, dan Syam Kamaruzaman adalah bekas anak buah dan teman baik Soeharto sejak zaman revolusi Indonesia.

    Ketika Untung melangsungkan pernikahannya pada tahun 1950-an, Soehartolah yang bertindak sebagai walinya. Soeharto pula yang didatangi oleh Latief, pada tanggal 30 September 1965, yang melaporkan akan adanya G30S walaupun dalam perkembangan kemudian Soeharto membantahnya. Sementara itu Syam Kamaruzzaman juga dianggap sebagai intel “dwi-fungsi” yang melayani kepentingan intelijen baik untuk PKI maupun AD. Bahkan menurut Wertheim, tokoh intel ini sengaja disusupkan oleh AD untuk memprovokasi tindakan PKI yang sudah lama menjadi musuh AD.

  4. Pandangan seorang mantan pejabat intelijen Amerika Serikat, Peter Dale Scott.

    Pandangan ini menyatakan bahwa dalang utama dari kejadian ini adalah CIA (Central of Intelligence Agency). Menurut P.D. Scott, sejak Soekarno mengemukakan gagasan tentang perlunya sistem politik Demokrasi Terpimpin (1956), meminta bantuan Uni Soviet untuk membebaskan Irian Barat (1962), membentuk poros Jakarta-Peking-Pyongyang dan melakukan konfrontasi dengan Malaysia (1964), Amerika Serikat tidak senang dengan tindakan-tindakan Soekarno yang ingin menjadi pemimpin baru bagi negara-negara Asia, Afrika, dan Latin Amerika itu. Hal itu nampak dari dukungan dan bantuan yang diberikan kepada para pemberontak PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera dan PERMESTA (Perjuangan Semesta) di Sulawesi yang menentang Presiden Soekarno.

 

Di antara pandangan di atas, lantas menurut kalian pandangan mana kah yang paling masuk akal?

Namun, dalam kajian kali ini kami (BEM UNTAR) akan menjelaskan kronologi Gerakan 30 September jika dilihat PKI sebagai dalang utama terjadinya masa kelam ini.

 

 

KRONOLOGI

G30S (Gerakan 30 September) adalah gerakan pemberontakan yang dilakukan pada malam tanggal 30 september 1965 menjelang 1 oktober 1965 yang bertujuan untuk mengganti ideologis pancasila menjadi komunis. Gerakan ini dipelopori oleh Amir Syarifuddin dan Muso yang dipimpin oleh D.N Aidit. 

  • Sebelumnya pada bulan Desember tahun 1964 terbongkar dokumen rahasia milik PKI yang berisikan tentang perebutan kekuasaan. Namun PKI tidak mengakuinya dan mengatakan bahwa dokumen tersebut merupakan dokumen palsu dan malah menuduh balik bahwa dokumen tersebut merupakan fitnah yang sengaja disebarkan oleh lawan politiknya.

    Dalam rencana untuk menghancurkan ideologi pancasila PKI menyebarkan isu-isu mengenai dewan jenderal secara gencar sampai isu tersebut benar-benar dipercaya oleh masyarakat. PKI juga mendesak Bung Karno untuk membungkam melawan PKI. Hari H gerakan 30 September adalah tanggal 1 oktober pukul 4 dini hari. 

Operasi Gerakan 30 September akan dibagi menjadi 3 komando yakni komando penculikan yang dipimpin oleh Letnan 1 Dul Arif yang bertugas untuk menculik beberapa jendral yang tergabung dalam dewan jenderal hidup atau mati. Komando penyergapan dan penguasaan kota dipimpin oleh Kapten Suradi, dan komando basis dipimpin oleh Mayor Udara Gatot Sukrisno. Sasaran utama PKI adalah para jendral yang tergabung dalam dewan jendral atau tokoh-tokoh yang anti partai. 

Sasaran penculikan dari PKI adalah jendral A.H Nasution, Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Suprapto, Jenderal S. Parman, Jenderal Haryono, Jenderal D.I Pandjaitan, dan Jenderal Sutoyo. Jenderal Ahmad Yani dijadikan target penculikan oleh PKI karena ia menolak keinginan PKI untuk membentuk angkatan kelima yang terdiri atas buruh dan tani. Ia ditembak di ruang makan di rumahnya. Mayatnya pun dibuang di Lubang Buaya.

  • Jenderal A.H Nasution berhasil lolos dari kebiadaban PKI, tetapi anaknya Ade Irma Suryani Nasution meninggal di rumahnya karena ditembak oleh anggota PKI yang ingin menculik dirinya. Ajudannya, Pierre Andreas Tendean dengan keberaniannya menyelamatkan nyawa Nasution dengan mengaku sebagai dirinya ia kemudian dibawa oleh PKI dan dibunuh oleh PKI di Lubang Buaya.
  • Jenderal Suprapto diculik oleh PKI di kediamannya dan dibunuh di lubang buaya karena ia menolak pembentukan angkatan kelima oleh D.N Aidit. Jenderal S. Parman dijadikan target oleh PKI karena ia menolak bergabung dengan paham komunis dan juga karena ia mengetahui banyak rahasia dari PKI. Jenderal Haryono menjadi korban penculikan PKI dan dibunuh di Lubang Buaya, dan mayatnya pun dibuang di tempat itu juga.

  • Jenderal D. I. Pandjaitan meninggal karena kebiadaban yang dilakukan oleh PKI, saat itu segerombolan anggota PKI datang ke kediamannya dan membunuh ajudan serta pelayannya. Lalu, ia pun langsung dibunuh dengan cara ditembak dan Mayatnya dibawa oleh PKI ke Lubang Buaya.

  • Jendral Sutoyo menjadi korban penculikan PKI. Awalnya ia dibohongi oleh PKI yang mengatakan bahwa ia mendapat panggilan dari presiden dan dengan urusan yang mendesak.

Dari sisi sejarah, pemberontakan Partai Komunis Indonesia tidak hanya satu kali. Pemberontakan PKI dimulai dari tahun 1926, 1945, 1958, 1950, dan yang terakhir pada tahun 1965. Peristiwa 1965 disebut sebagai pemberontakan PKI terbesar karena memakan banyak korban, mulai dari ABRI, masyarakat sipil hingga anggota PKI itu sendiri. Jelas dengan pemberontakan yang dilakukan tidak membawa keuntungan bagi negara. Oleh karena itu, Partai Komunis Indonesia tidak boleh ada lagi.

Potensi lahirnya kembali gerakan komunis di Indonesia sangat besar. Karena demokrasi menuntut kebebasan bagi siapapun untuk mengungkapkan pendapat dan kebebasan berkeyakinan. Kelompok komunis menafsirkan kebebasan ini sebagai strategi untuk memperkuat pengaruh mereka. Dengan cara ini, gagasan komunis memiliki peluang untuk muncul kembali. Tetapi perlu diingat bahwa organisasi terlarang ini tak mungkin bangkit karena kegiatan apapun yang terkait PKI akan ditindak polisi. Apalagi bila ada yang melempar isu bahwa di Indonesia ada 40 juta anggota PKI aktif  yang beberapa kali melakukan kongres, sudah tentu itu hanya sebatas khayalan. Lagi pula, keturunan anggota PKI pun sudah membaur dan menjalani kehidupan normal. Karena itu, sangat tidak masuk akal jika PKI bangkit kembali. Namun, sebagai sebuah gerakan yang pernah melakukan pemberontakan atas pemerintahan yang sah di Indonesia, tetap harus diwaspadai.

Secara teori, PKI tidak mungkin bangkit. Prasyarat terbentuknya Partai Komunis Indonesia sebagai ideologi transnasional tidak terpenuhi, yaitu tidak adanya rujukan yang bisa membuat PKI bangkit kembali. Setelah Uni Soviet runtuh, Tiongkok menjadi negara kapitalis. Sementara Vietnam dan Korea Utara, sebagaimana Tiongkok, hanya menjadikan komunisme sebagai ideologi internal negara mereka untuk melanggengkan kekuasaan. Sehingga untuk mendirikan Kembali PKI tidak ada dukungan dari pihak-pihak luar tersebut.

Mungkin saja, anggapan bahwa Isu kebangkitan PKI yang sengaja dihembuskan untuk diolah menjadi komoditas politik tertentu adalah benar. Akan tetapi cukup mengherankan bila ada pihak-pihak yang tidak mau rakyat Indonesia mengenang dan mengingat kekejaman PKI terhadap rakyat yang tidak tunduk pada ideologi mereka. Janggal rasanya apabila sesama anak bangsa justru ingin kita melupakan peristiwa kelam yang menyebabkan gugurnya para Pahlawan Revolusi dan merenggut ratusan ribu nyawa rakyat Indonesia.

Tujuan kita adalah mengingat kembali kekejaman apa yang dilakukan PKI sehingga memperingati pemberontakannya bukanlah untuk mengungkit-ungkit kesalahan. Juga tidak menggambarkan batas-batas politik identitas. Jangan mengucilkan keturunan dari pelaku kekejaman ini, jangan menabur kebencian atas peristiwa masa lalu. Melainkan untuk menghormati mereka yang selamat, mengingat mereka yang hilang dan tiada, serta belajar dari kesalahan kala itu. Dengan belajar dari kesalahan kita dapat meningkatkan kewaspadaan agar generasi mendatang tidak mengalami kejadian serupa.

 

 

Lalu, apa yang harus kita perbuat sebagai bangsa agar peristiwa kelam yang terjadi 55 tahun lalu itu tidak terulang?

Pertama, mempererat tali persaudaraan dan kesatuan. Guna menangkal kebangkitan komunisme, slogan NKRI harga mati sudah seharusnya dihidupi oleh kita selaku pemuda-pemudi Indonesia yang menjadi target utama perekrutan anggota komunis. Sebagai bangsa yang satu bangsa Indonesia, kita harus menyadari bahwa kita tidak mengenal suku Sunda, Jawa, Madura atau apapun itu dalam menjalin hubungan antar sesama. Karena kita semua anak-anak Indonesia sekalipun kita berlainan agama. Selalu tanamkan dalam hati bahwa kita semua memiliki rasa tanggung jawab yang sama untuk menjaga keutuhan bangsa. Karena saat ini pengaruh dari berbagai pihak yang ingin memecah belah tidak terbendung. Tugas kita ke depan pasti akan semakin berat. Untuk itu, sebagai mahasiswa/i yang saat ini mengenyam pendidikan pergunakanlah cara berpikir sistematis agar kita tidak mudah menerima informasi hoax yang tentunya akan menyesatkan sekaligus mengadu domba bangsa ini. Apalagi di tengah upaya keras kita bersama menghadapi pandemi ini, dimana situasi ekonomi semakin sulit, perpolitikan tanah air yang sedang memanas karena gelaran pilkada, dan berbagai masalah lain yang yang terus mengekori bangsa ini. Tetaplah teguh bahwa dalam situasi apapun, jangan mudah dihasut oleh oknum-oknum yang ingin memecah belah NKRI. Komitmennya ialah satu, keutuhan NKRI. Jadi stop menyebar berita bohong (saring sebelum sharing).

 

Kedua, pemerintah harus berusaha lebih keras untuk mendeteksi pergerakan maupun bahaya laten (bahaya komunis yang sewaktu-waktu muncul) di Indonesia. Ketidakseriusan pemerintah dalam penanganan pandemi saat ini menjadi kesempatan bagi antek-antek komunis untuk menekan berbagai kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan harapan rakyat dengan cara menawarkan solusi baru, yang sebenarnya adalah ideologi komunis tadi. Selain itu, diharapkan pemerintah yang adalah Presiden dan DPR untuk jangan lagi memberi angin segar bagi mereka yang anti pancasila dengan mengambil sikap untuk menyentuh sila-sila sakral yang terkandung dalam Pancasila. Seperti beberapa waktu lalu, DPR mengusulkan Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila yang tidak berpedoman Tap MPRS 25/66, yaitu tentang pembubaran PKI dan larangan penyebaran ajaran komunisme, Marxisme, Leninisme, kecuali untuk keperluan studi akademik bukan untuk penyebaran. Terlebih lagi dalam rancangan tersebut, Pancasila akan diperas menjadi Trisila dan Ekasila. Beruntung pemerintah melalui Menteri Koordinator Hukum dan Hak Asasi Manusia, Mahfud MD, menolak usulan tersebut dengan menyampaikan pernyataan "Sejauh menyangkut substansi pula pemerintah pada posisi Pancasila yang resmi dan dipakai itu hanya satu, yaitu Pancasila yang ada di pembukaan UUD 1945 yang disahkan pada 18 Agustus 1945 oleh panitia persiapan kemerdekaan yang terdiri dari lima sila yang merupakan satu kesatuan makna, dimaknai dalam satu tarikan nafas, tidak bisa dipisah, tidak bisa dikurangi tidak bisa diperas." Tetapi apa daya gelombang massa tetap terjadi di berbagai penjuru negeri akibat salah langkah dari para pemangku kebijakan.

 

Ketiga, upaya yang paling mendasar untuk dilakukan bersama adalah dengan menghadirkan sila-sila Pancasila itu sendiri di masyarakat. Berbicara mengenai sila ke-5 yang berbunyi Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Cobalah kita renungkan tentang apa arti keadilan sosial yang sebenarnya, dan bagaimana keadilan sosial itu dapat terwujud di negeri ini?

Keadilan sosial mengharapkan seluruh warga negara Indonesia berlaku secara adil satu sama lain. Dengan tidak membeda-bedakan inilah yang menjadikan kita sebagai satu kesatuan bangsa. Dalam hal ini, kita tidak sedang menuntut suatu kesamaan rasa dan harta maupun mempertentangkan kelas seperti prinsip ideologi komunis yang hanya akan mengadu domba pihak tertindas dan yang menindas, sehingga suatu keharmonisan tidak tercapai. Kembali pada keinginan kita bersama untuk mendapat perlakuan yang adil, kita malah disuguhkan dengan “hukum tajam kebawah dan tumpul keatas” yang sangat nyata ada di depan mata. Kenyataan pahit inilah yang menjawab pertanyaan kita tentang bagaimana keadilan sosial itu dapat terwujud di negeri ini apabila masih ada sesama anak bangsa yang tidak menghidupi sila-sila Pancasila. Untuk menerapkan sila Keadilan Sosial dan seluruh sila yang terkandung dalam Pancasila diperlukan peran serta seluruh rakyat karena Indonesia bukan hanya Aku, Kamu, atau Mereka. Indonesia adalah Kita. Kalau semua sila dalam Pancasila dihidupi dengan  sebaik-baiknya, maka ideologi komunis yang hendak dipaksakan tidak akan bisa menembus jiwa raga bangsa karena kita merasakan bahwa Pancasila hadir menjadi keseharian. Pancasila dalam ketuhanannya, kemanusiannya, persatuannya, kerakyatannya, dan keadilannya menjadi kenyataan.

 

7 Tokoh Pahlawan Revolusi Nasional yang menjadi korban pembunuhan G30S:

 

Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Ahmad Yani

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mayjen TNI R. Suprapto

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mayjen TNI M.T. Haryono

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mayjen TNI Siswondo Parman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Brigjen TNI DI Panjaitan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Letnan Pierre Tendean

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Telah kita ketahui Gerakan 30 September adalah sebuah usaha untuk merebut kekuasaan negara dengan tindakan kekerasan dan juga menimbulkan korban jiwa yang tentunya tidak sedikit, bahkan dapat dikatakan sebagai sebuah bencana nasioal.

Akan tetapi, dibalik kejamnya peristiwa ini, kita harus tetap mengingat masa lalu untuk dijadikan sebuah pelajaran penting tentang persatuan dan kesatuan sebuah bangsa dan bukan untuk kembali menebar kebencian.

 

 

REFERENSI

 

Widja, I Gde. 1989. Dasar-Dasar Pengembangan Strategi Serta Metode Pengajaran Sejarah. Jakarta :

       Depdikbud

 

https://sejarahlengkap.com/indonesia/kemerdekaan/pasca-kemerdekaan/latar-belakang-g30s-pki

 

https://kawanuainside.com/angkatan-kelima-menuju-g30s-pki/

 

https://www.academia.edu/34613486/MAKALAH_IDEOLOGI_KOMUNISME_Pendidikan_Pancasila

 

https://news.detik.com/berita/d-5094510/sikap-pemerintah-soal-ruu-hip-pancasila-tak-bisa-diperas