bertahan di tengah badai resesi

Ekonomi Indonesia resmi resesi setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2020 yang minus 3,49%. Hal yang paling mudah dirasakan saat resesi adalah menurunnya jumlah lapangan kerja baru, dimana akan ada ledakan gelombang pengangguran yang pada akhirnya tingkat kemiskinan akan bertambah. Untuk menghadapi itu semua, kita harus bisa menjawab pertanyaan tentang “Apa sesungguhnya resesi itu? Dan, bagaimana cara menyelamatkan diri di tengah badai resesi?.”

 

Oleh sebab itu, kami (BEM UNTAR) membuat kajian dalam rangka menghadapi resesi ekonomi guna mempersiapkan pengetahuan yang utuh serta langkah jitu menghadapi resesi.

 

"Cash is king"

- Pehr G. Gyllenhammar

 

LATAR BELAKANG

“Indonesia Resmi Resesi” menjadi headline pemberitaan akhir-akhir ini. Resesi memang kian populer di tengah penurunan ekonomi Indonesia selama pandemi Covid-19. Terbaru, ekonomi Indonesia di kuartal III (Juli-September) 2020 menurun 3,49% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Sementara di kuartal II (April-Juni) 2020 juga mengalami penurunan yang justru lebih dalam yaitu sebesar 5,32%. Resesi yang menjadi buah bibir saat ini sebenarnya bukanlah “barang” baru. Di mana Indonesia sendiri pernah mengalaminya pada periode 1997-1999.

 

Lantas sebenarnya apa yang dimaksud dengan resesi?

Pada tahun 1974, ekonom Julius Shiskin mendefinisikan resesi sebagai penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) selama dua kuartal berturut-turut. Perlu diketahui, PDB adalah jumlah dari produksi barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara selama satu tahun. Dan, dua kuartal berturut-turut sama dengan periode waktu 6 bulan. Masih menurut Shiskin, ekonomi yang sehat berkembang dari waktu ke waktu, sehingga pada dua perempat tahun dimana produksi menyusut menunjukkan ada masalah mendasar yang serius. Definisi resesi ala Shiskin ini menjadi standar umum selama bertahun-tahun.

Secara sederhana, resesi adalah roda ekonomi yang sedang istirahat. Sama istilahnya dengan reses, yakni masa periode persidangan diistirahatkan. Ketika ekonomi sedang istirahat maka perputaran roda ekonomi akan melambat atau bahkan berhenti. Jika diartikan sedang istirahat, memang terdengar tidak menakutkan. Tapi yang menimbulkan kekhawatiran adalah apa yang membuat ekonomi beristirahat? Apa karena kelelahan atau karena sakit? Jika penyebabnya yang kedua maka kekhawatiran menjadi lebih besar.

 

Apa sebenarnya penyebab resesi itu?

Pandemi Covid-19 menjadi akar masalah resesi ekonomi Indonesia. Karena selama pandemi, masyarakat cenderung menunda pembelian atau menunggu harga yang lebih murah (diskon). Hal ini menyebabkan aktivitas ekonomi melambat. Dampaknya sektor bisnis terpukul dan gulung tikar karena masyarakat mengerem konsumsi. Akhirnya, angka pengangguran meningkat tajam dan meluas. Bagi masyarakat yang memiliki pekerjaan, dalam kondisi resesi mereka sulit mendapatkan kenaikan gaji. Tidak sedikit kasus di mana para pekerja mengalami pemotongan gaji karena kondisi ini. Hal itu kembali berimbas pada daya beli masyarakat. Belum lagi fresh graduate yang akan kesulitan mencari pekerjaan sehingga menambah tinggi angka pengangguran.Secara umum, ekspansi dan pertumbuhan ekonomi tidak dapat bertahan selamanya. Dilansir dari Business Insider, penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan biasanya dipicu oleh kombinasi faktor-faktor yang kompleks dan saling berhubungan, termasuk:

1. Guncangan ekonomi

Peristiwa tak terduga yang menyebabkan gangguan ekonomi yang meluas, seperti  pandemi COVID-19 yang melanda hampir seluruh negara di dunia menyebabkan kinerja ekspor Indonesia loyo, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kegiatan ekspor pada Agustus 2020 anjlok 8,36 persen. Ditambah lagi dengan tekanan ekonomi domestik karena pemerintah terpaksa menerapkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah dalam dua hingga tiga bulan yang awalnya untuk meminimalisir penyebaran virus corona namun tidak efektif karena rendahnya kesadaran masyarakat berperilaku 3M: Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak. PSBB ini yang membuat aktivitas ekonomi masyarakat terhambat. Sebab, banyak masyarakat yang berdiam diri di rumah sehingga mempengaruhi tingkat konsumsi.

2. Kehilangan kepercayaan konsumen 

Ketika konsumen mengkhawatirkan keadaan ekonomi, mereka memperlambat pengeluaran mereka dan menyimpan uang. Anjloknya konsumsi masyarakat jadi dalang dari kontraksi output perekonomian Indonesia. Konsumsi rumah tangga merupakan tulang punggung ekonomi. Kontribusinya terhadap PDB mencapai 54,2% tahun lalu. Ketika masyarakat mengerem belanjanya karena berjaga-jaga jika kondisi pandemi makin memburuk atau bahkan karena pendapatan menurun dan daya beli terkikis. Semua itu terjadi karena pemerintah tidak menganggap COVID-19 sebagai ancaman sedari awal, sehingga pandemi semakin tak terkendali dan kini, Indonesia menjadi episentrum penyebaran COVID-19 baru di dunia.

3. Deflasi

Kebalikan dari inflasi, deflasi berarti harga produk dan aset turun karena penurunan permintaan yang besar. Ketika permintaan turun, harga juga turun sebagai cara penjual mencoba menarik pembeli. Orang-orang menunda pembelian, menunggu harga yang lebih rendah, menyebabkan aktivitas ekonomi yang melambat dan pengangguran yang lebih besar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi 0,05 persen pada September 2020. Tercatat, deflasi sudah terjadi selama tiga bulan berturut-turut sejak Juli sebesar 0,10 persen dan Agustus sebesar 0,05 persen. Deflasi dalam tiga bulan di kuartal III-2020 ini menandakan daya beli masih sangat lemah, salah satunya diakibatkan oleh tidak meratanya bantuan sosial pemerintah dengan dalih penyerapan anggaran yang rendah, padahal ini semua diakibatkan oleh tidak terintegrasinya data penerima bantuan dan keterbatasan anggaran itu sendiri.

 

Gambaran resesi yang menimpa dunia

Terjadinya pandemi Covid-19 tidak hanya menyebabkan goyahnya perekonomian Indonesia, melainkan juga dunia. Hal ini membuat banyak negara tak bisa menghindari ancaman resesi dan gangguan ekonomi yang terjadi. Pandemi global Covid-19 menyebabkan penyusutan terbesar dalam beberapa dekade terakhir yang akan membuat ekonomi global mengalami penyusutan sebesar 3% tahun ini, menurut Dana Moneter Internasional (IMF). Tak hanya negara kecil, namun negara maju juga ikut terjatuh dalam jurang resesi ekonomi ini. Menurut data Trading Economics, pada bulan September sudah terdapat 44 negara yang resmi mengalami resesi, bahkan negara tetangga kita sekalipun.

Dibuktikan dengan kabar baru-baru ini yang menyatakan bahwa ancaman resesi dialami oleh negara tetangga, Singapura. Tercermin dari perekonomian Singapura kuartal II yang mengalami kontraksi hingga 41,2% dikarenakan kondisi pandemi yang menghambat kegiatan ekspor mereka. Padahal, selama ini perekonomian Singapura ditopang oleh kegiatan ekspor. Selain itu, terhalangnya kegiatan bisnis dan belanja ritel akibat perpanjangan lockdown juga menjadi pemicu penurunan ekonomi di negara tersebut.

Salah satu negara yang mengalami resesi ekonomi akibat pandemi paling parah yaitu, Afrika Selatan. Menurut data Worldometers, Afrika Selatan per Senin (14/09/2020) memiliki 649.793 kasus positif corona, dengan 15.447 kasus meninggal, dan 577.906 berhasil sembuh. Karantina wilayah yang dilakukan Afsel dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 berakibat penurunan ekonomi yang cukup parah pada bulan April, Mei, dan Juni. PDB Afrika telah minus selama 4 kuartal berturut-turut. Badan Statistik Afrika Selatan mengumumkan, PDB telah menyusut -51% secara tahunan (year on year/yoy) di kuartal II 2020, menyusul kontraksi -1,8% dalam 3 bulan pertama (kuartal I 2020).

Begitu juga dengan salah satu negara termaju di dunia, Amerika Serikat (AS) juga masuk ke dalam jurang resesi ekonomi. AS terancam mengalami double-dip recession atau yang diartikan sebagai terjadinya kembali resesi setelah sempat pulih dari kejatuhan ekonomi dalam dua kuartal berturut-turut sebelumnya. Dalam pembacaan PDB final, AS mencatat PDB di kuartal II 2020 secara kuartalan (QtQ) adalah -31,7%. Sementara di kuartal I 2020, di basis yang sama, ekonomi -5%. Namun secara tahunan (YoY), ekonomi AS masih beruntung. Meski kuartal II 2020 -9,1%, di kuartal pertama ekonomi masih positif. Di mana AS PDB nya tumbuh 0,3%. Penurunan ekonomi ini sendiri bergantung pada upaya AS menangani virus corona ini. Sayangnya, saat ini AS masih merupakan negara dengan angka penyebaran corona tertinggi di dunia. Hal ini menimbulkan sejumlah dampak, salah satunya, pada bulan April, lebih dari 20 juta pekerja AS lenyap.

Itulah 3 gambaran dari banyak negara yang terkena dampak resesi. Terlihat bahwa negara maju sekalipun tidak dapat menentang akibat yang terjadi terhadap perekonomian dikarenakan pandemi Covid-19 ini. Serangan resesi ekonomi ini tidak pandang bulu. IMF pun menyatakan pandemi ini telah mendorong dunia ke dalam “krisis yang belum pernah ada sebelumnya".

 

Pembahasan

Sejarah resesi ekonomi di indonesia

Indonesia pertama kali mengalami resesi pada tahun 1963. Resesi kala itu terjadi karena hiperinflasi akibat belanja pemerintah yang membengkak. Keputusan-keputusan yang diambil oleh Presiden Soekarno saat itu terbilang berlawanan dengan negara lain, salah satunya Malaysia. Bahkan, Indonesia juga memutuskan keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat itu. Sementara, uang negara semakin merosot dari tahun ke tahun. Bahkan, defisit anggaran tembus 600 persen pada 1965.

Kemudian, ekonomi Indonesia mulai menanjak setelah posisi Soekarno digantikan oleh Soeharto. Laju inflasi mulai melambat setelah Soeharto membuat situasi politik di Indonesia membaik dengan bergabung kembali di PBB dan mendapatkan bantuan dari IMF. Ekonomi Indonesia kembali positif pada 1970-1980. Selain karena tensi politik yang membaik, kenaikan harga minyak dunia saat itu juga mendorong perekonomian dalam negeri.

Namun, ekonomi Indonesia kembali memburuk pada 1990-an. Krisis finansial Asia pada 1997-1998 membuat Indonesia masuk ke jurang resesi. Tercatat, resesi bahkan berlangsung selama 9 bulan atau tiga kuartal berturut-turut. Hal ini membuat Indonesia memasuki masa depresi.pada masa kepemimpinan Soeharto, tahun 1998 sempat mengalami resesi ekonomi. Peristiwa ini tercatat sebagai krisis ekonomi terparah di Asia Tenggara. Diawali dengan naiknya nilai tukar mata uang Thailand (Baht) hingga melesat ke krisis di Asia Tenggara.

Pemicu terjadinya resesi 1998 ini adalah membengkaknya utang negara dalam bentuk valuta asing. Mulai dari utang pemerintah, BUMN, hingga perusahaan swasta. Tercatat per bulan maret 1998, utang negara mencapai 138 Miliar dollar AS yang 72,5 Miliar di antaranya merupakan utang swasta dan dua per tiganya jangka pendek. Sedangkan 20 Miliar dollar AS harus dibayarkan pada tahun tersebut tetapi cadangan devisa hanya tersisa 14,4 Miliar dollar AS.

Krisis yang berkepanjangan ini adalah krisis merosotnya nilai tukar rupiah yang sangat tajam, akibat dari serbuan yang mendadak dan secara bertubi-tubi terhadap dollar AS (spekulasi) dan jatuh temponya utang swasta luar negeri dalam jumlah besar.

Faktor lain yang menyebabkan resesi dan krisis berkepanjangan di Indonesia pada 1998, diantaranya:

  1. Dianutnya sistem devisa yang terlalu bebas tanpa adanya pengawasan yang memadai, memungkinkan arus modal dan valas dapat mengalir keluar-masuk secara bebas berapapun jumlahnya.
  2. Tingkat depresiasi Rupiah yang relatif rendah, berkisar antara 2,4%(1993) hingga 5,8% (1991) antara tahun 1988 hingga 1996, yang berada di bawah nilai tukar nyatanya, menyebabkan nilai rupiah secara kumulatif sangat overvalued.
  3. Ketidakmampuan pemerintah menangani krisis menimbulkan krisis kepercayaan dan mengurangi kesediaan investor asing untuk memberi bantuan finansial dengan cepat (World Bank, 1998: 1.10).
  4. Defisit neraca berjalan yang semakin membesar (IMF Research Department Staff:10;IDE), yang disebabkan karena laju peningkatan impor barang dan jasa lebih besar dari ekspor dan melonjaknya pembayaran bunga pinjaman.
  5. Penanam modal asing portofolio yang pada awalnya membeli saham besar-besaran diiming-imingi keuntungan yang besar yang ditunjang oleh perkembangan moneter yang relatif stabil kemudian mulai menarik dananya keluar dalam jumlah besar (bandingkan World Bank, 1998, hal. 1.3, 1.4; Greenwood).
  6. IMF tidak membantu sepenuh hati dan terus menunda pengucuran dana bantuan yang dijanjikannya dengan alasan pemerintah tidak melaksanakan 50 butir kesepakatan dengan baik.
  7. Spekulan domestik ikut bermain (Wessel et al., hal. 22). Para spekulan inipun tidak semata-mata menggunakan dananya sendiri, tetapi juga meminjam dana dari sistem perbankan untuk bermain.
  8. Terjadi krisis kepercayaan dan kepanikan yang menyebabkan masyarakat luas menyerbu membeli dollar AS agar nilai kekayaan tidak merosot dan malah bisa menarik keuntungan dari merosotnya nilai tukar rupiah.
  9. Terdapatnya keterkaitan yang erat dengan yen Jepang, yang nilainya melemah terhadap dollar AS (lihat IDE).

 

BPS pada tahun 1998 merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia di semester I dengan angka minus 12,23 persen dibandingkan dengan semester yang sama pada tahun 1997. Sugito Suwito, Kepala BPS saat itu mengatakan bahwa hampir semua sektor mengalami pertumbuhan negatif, kecuali di bidang pertanian.

Dampak yang terjadi, diantaranya, lebih dari 70 persen perusahaan yang tercatat di pasar modal, bangkrut yang berakibat jumlah pengangguran bertambah dan garis kemiskinan juga meningkat mencapai sekitar 50 persen dari total penduduk.

Resesi 1998 ini terjadi sampai terjadinya perjanjian antara Indonesia dengan IMF pada Juni 1998 di bawah pimpinan B.J. Habibie.

 

Tabel 1.1

Beberapa Indikator Makroekonomi

Tahun Takwim dan Tahun Fiskal

Resesi bukan untuk ditakuti

Ancaman resesi yang menimpa bangsa Indonesia memang mengkhawatirkan. Namun, resesi ini bukan untuk ditakuti. Tidak juga untuk diremehkan. Menurut Luhut dalam diskusi virtual di akun Youtube Bank Indonesia, jika resesi terjadi, maka itu bukan akhir dari segalanya.

Menurut ekonom senior dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, pemerintah perlu fokus menangani COVID-19 dan memperbanyak tes agar penurunan ekonomi tidak berlanjut. Menurutnya, tidak masalah jika Q3 Indonesia mengalami resesi selama penanganan COVID-19 berjalan seperti Malaysia dan Singapura yang sudah mulai membuka ekonominya kembali. Namun jika terus seperti ini, maka ia memperingatkan ekonomi akan lebih lama lagi terpuruk bahkan membentuk huruf W: perbaikan yang terjadi sesudah periode pemburukan akan kembali terpuruk.

Faisal juga berpendapat bahwa target September ialah benahi virus bukan tidak resesi Q3. Karena menurutnya jika ambil risiko huruf W, ekonomi naik turun output, maka kepercayaan terhadap pemerintah akan turun.

Di tengah resesi seperti ini, diperlukan kebijakan masyarakat dalam mengelola keuangannya dan jangan panik. Perlu diingat bahwa resesi ekonomi ini memang sangat sulit dihindari, namun resesi dan pandemi Covid-19 ini cepat atau lambat akan berlalu.

 

Kronologis jatuhnya Indonesia ke jurang resesi

Indonesia kembali diprediksi masuk ke jurang resesi akibat pandemi COVID-19, potensi resesi tersebut akan terjadi jika Indonesia kembali mencatatkan pertumbuhan minus dalam kuartal IV ini. Menurut Organisasi Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi (OECD), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 akan turun lebih dalam dari rentang proyeksi pemerintah. OECD dalam Economic Outlook Interim Report edisi September 2020, memperkirakan bahwa ekonomi Indonesia pada tahun ini akan berada di - 3,3 %.

  • Pada kuartal I (Januari, Februari, Maret), Kepala Badan Pusat Statistik, Suhariyanto mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi pada 2,97%. Pandemi virus COVID-19 ini menjadi salah satu penyebab utama pertumbuhan ekonomi negara mengalami kontraksi besar bahkan pada kuartal I, yang mana pada tahun 2019 pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I masih mengalami kontraksi baik secara year on year sebesar 5,07% dan quartal to quartal yang sebelumnya pada kuartal IV 2019 adalah 4,97%.
  • Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa pertumbuhan indonesia pada kuartal II (April, Mei, Juni), mengalami -5,32 %. Menurut pengeluaran secara tahunan, semua komponen mengalami kontraksi dengan konsumsi rumah tangga yang mencatatkan penurunan paling dalam.
  • Pada kuartal III (Juli, Agustus, September) pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 3,49%. Kelompok provinsi di Pulau Bali dan Nusa Tenggara mengalami kontraksi pertumbuhan terdalam sebesar 6,80 %. Dengan begitu, ekonomi Indonesia masuk zona resesi atau minus dalam dua kuartal berturut-turut. Di mana pada kuartal II 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32 %.

Dengan demikian, total outlook 2020 konsumsi Indonesia berarti pada kisaran kontraksi -2,1% hingga -1%.

 

Ketidakberhasilan pemerintah mengantisipasi resesi

Masuknya Indonesia ke jurang resesi, tentu dilatarbelakangi oleh sebuah ketidakberhasilan baik dari pemerintah maupun faktor lainnya dalam masa pandemi ini, yang diantaranya adalah:

  • Dilema antara kesehatan dan ekonomi

Meningkatnya kasus penyebaran virus COVID-19 di Jakarta, membuat Pemprov DKI Jakarta kembali memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), hal ini pun dinilai bakal memperparah jurang resesi di Indonesia. Pada masa PSBB transisi, Piter Abdullah, ekonom Indonesia menilai bahwa perekonomian sudah bergerak kembali meski masih sangat terbatas. Hal tersebut dapat dilihat dari penyaluran kredit yang mulai tumbuh terutama dengan dorongan likuiditas dari pemerintah. Namun pada awal September, Pemprov DKI kembali memberlakukan PSBB di ibukota. Hal tersebut pun berimbas pada pengetatan daya beli masyarakat dikarenakan beberapa sektor publik dan ekonomi yang ditutup seperti, mall yang sepi pengunjung dikarenakan diberlakukan PSBB kembali. Walau hanya DKI Jakarta yang memberlakukan PSBB kembali, namun hal ini berimbas sangat besar kepada pertumbuhan ekonomi Indonesia mengingat Jakarta merupakan kota metropolitan yang menyumbang besar pada pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Namun perlu diperhatikan, di saat yang bersamaan, perlu disadari bahwa penangan dari sisi kesehatan juga menjadi faktor penting saat ini. Sehingga melalui kebijakan ini, tentu pemerintah berharap angka kasus COVID-19 segera melandai. Dilemanya antara ekonomi dan kesehatan di masa pandemi COVID-19 ini tentu juga bukan menjadi pilihan yang mudah bagi pemerintah Indonesia dalam mengambil keputusan serta kebijakan-kebijakan.

 

  • Lemahnya pengendalian pandemi Covid-19 menjadikan Indonesia resesi

Enny Sri Hartati, ekonom INDEF menyatakan bahwa kebijakan pemerintah yang telah gagal mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia di kala pandemi ini menjadi salah satu faktor yang ikut andil dalam terjadinya resesi. Pemerintah dinilai lambat dan terlambat, baik dalam mengantisipasi, melawan, dan memitigasi dampak COVID-19 sejak awal penyebaran virus ini. Kegagalan tersebut bermula pada awal masuknya virus COVID-19, pemerintah justru fokus mempromosikan pada kunjungan wisatawan baik asing maupun mancanegara. Padahal, saat itu WHO telah mengingatkan bahaya penyebaran virus Corona mengingat virus tersebut berasal dari negara lain. Pemerintah dinilai terlambat mengambil keputusan untuk lockdown ataupun PSBB.

 

  • Keterbatasan anggaran pemerintah

Penurunan konsumsi menjadi salah satu faktor dominan penyebab terjadinya resesi di masa pandemi ini. Sehingga cara mencegahnya tentu dengan meningkatkan konsumsi. Selain peningkatan konsumsi, pemerintah juga perlu mengupayakan peningkatan investasi yang sempat menurun. Kedua indikator ini tentu akan menjadi objek pemulihan yang utama. Berbagai instrumen dapat dilakukan pemerintah mulai dari bantuan sosial hingga strategi memulihkan kepercayaan diri investor. Namun tentu hal tersebut terbatas pada anggaran APBN negara yang harus terfokus antara bidang kesehatan dan ekonomi. Yang mana dalam pandemi ini anggaran APBN negara juga harus diutamakan pada bidang kesehatan dalam menanggulangi penyebaran virus COVID-19.

 

Kunci penanganan resesi oleh pemerintah

Walaupun tingkat konsumsi masyarakat rendah di kala pandemi ini, nyatanya pemerintah tidak perlu panik mengenai hal tersebut. Sebab, faktor eksternal dalam pertumbuhan ekonomi bukanlah kontributor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik pada kuartal II lalu, ekspor hanya berkontribusi sebesar 17,61% terhadap PDB. Adapun PDB Indonesia masih bertumpu pada konsumsi dan investasi dengan porsi masing-masing sebesar 55,79% dan 31,25% terhadap PDB. Sehingga untuk menumbuhkan ekonomi, pemerintah harus berfokus pada dua komponen PDB yaitu konsumsi dan investasi. Sebab, dua faktor tersebut berkontribusi sebesar 80% terhadap PDB.

Konsumsi domestik memang masih bisa ditangani, sehingga yang perlu menjadi perhatian pemerintah adalah investasi. Hanya saja ongkos investasi di Indonesia tidak efisien. Hal ini dapat dilihat dalam skor Incremental Capital-Output Ratio (ICOR). ICOR merupakan parameter yang menggambarkan besaran tambahan modal yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit output. Dengan kata lain, semakin tinggi skor ICOR, maka investasi semakin tidak efisien. Saat ini skor ICOR di Indonesia berada di angka 6,3 atau lebih dibanding negara-negara Asia Tenggara lainnya yang dikisaran 3. Padahal, jika investasi semakin efisien, maka dampaknya ke pertumbuhan ekonomi akan lebih terasa.

Salah satu komponen yang membuat ongkos investasi makin mahal di Indonesia adalah regulasi dan institusi. Jika pemerintah fokus mengurai permasalahan tersebut, maka pertumbuhan ekonomi dapat meningkat. Sehingga nyatanya pemerintah tidak boleh terpaku hanya pada indikator ekspor semata, namun juga harus mengutamakan investasi yang seharusnya bisa menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia di kala pandemi ini.

 

Hadapi resesi, mahasiswa bisa apa?

Di saat kita harus berhemat, pemerintah mendorong masyarakat tetap berbelanja selama pandemi, terlihat dari dibukanya mall bahkan bioskop walaupun tak sempat karena PSBB yang katanya ketat padahal banyak pelonggaran ini diterapkan. Mengalami dilema semacam ini, apa yang mesti kita perbuat? Mari simak tips-tips ampuh berikut ini.

Tips pertama, jangan panik. Mungkin ada beberapa dari orang tua kita yang harus diistirahatkan di rumah karena kehilangan pekerjaannya, kehilangan pendapatan karena sepi pembeli atau bahkan sampai menutup tempat usaha. Jika kita tidak mau bersabar dan menggunakan akal sehat, kepanikan akan menguasai diri kita untuk melakukan tindakan-tindakan nekat di luar nalar yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Misalnya kita menjadi lebih emosional, tentunya berdampak tidak baik bagi orang terdekat.

Kita sudah sadari dampak resesi yang paling dikhawatirkan bagi mahasiswa apabila orang tua terkena masalah keuangan (PHK atau omset bisnis menurun) dan tidak memiliki dana cadangan yang cukup akan kesulitan memenuhi biaya hidup dan biaya pendidikan. Untuk menghadapi masalah ini, tips kedua adalah berhemat dan berinisiatif mencari penghasilan tambahan. Jika punya tabungan pribadi, kita terpaksa menggunakan dana tersebut.

Yang selalu dijadikan alasan adalah kita tidak bisa berhemat secara serius karena masih perlu beli ini dan itu dan mungkin juga tidak banyak uang yang tersisa untuk bisa dihemat. Tips ketiga, mindful spending. Biasakan diri untuk membelanjakan uang secara cermat dan berhati-hati. Seperti menunda pembelian dalam jumlah banyak, mengurungkan niat berhutang ke teman untuk sesuatu yang tidak mendesak, membeli produk pengganti yang berfungsi sama namun lebih murah, sampai memanfaatkan promo cashback. Mudahnya, mereview seberapa penting berlangganan Apps Premium di tengah pandemi. Jika merasa tidak terlalu penting, dapat berhenti berlangganan.

Menurut para ekonom, resesi berdampak pada penurunan pendapatan dan PHK massal. Saat kita terdampak, mau tidak mau akan menggunakan dana darurat, uang tabungan, menjual aset, bahkan berhutang untuk bertahan hidup. Tips keempat, ini saatnya menggunakan dana darurat untuk bertahan hidup, tentu saja apabila ada. Kalau belum ada, harus mulai dipikirkan. Disarankan dana darurat berupa uang cash atau tabungan di bank yang dapat kita ambil setiap saat, dapat juga berupa logam mulia yang mudah kita jual. Tapi tidak disarankan mengalihkan dana darurat dalam bentuk saham ataupun reksadana yang berjangka waktu tertentu karena untuk mengkonversikan ke cash memakan waktu, apalagi dengan saham berisiko tinggi harus dihindari di masa pandemi dengan ketidakpastian yang tinggi.

Caranya dengan menyisihkan penghasilan secara konsisten untuk dana darurat ini. Di kondisi normal dana darurat idealnya berkisar 4-12 bulan pengeluaran inti seperti makan dan kos. Di situasi new normal, lebih ideal jika dana darurat disiapkan untuk dua tahun pengeluaran wajib. Bagi yang tidak pernah menyisihkan dana darurat, dapat menjadi pelajaran berharga akan pentingnya financial planning bagi setiap orang. Sekarang kita sadar kalau “cash is king”. Uang tidak semudah itu dicari di jaman krisis seperti ini. Jadi, tips kelima, jika punya uang cash, simpan dengan baik hingga 12 kali living expense

Tips keenam, Utamakan belanja dengan orang terdekat atau UMKM. Upayakan membantu orang di sekitar yang membutuhkan. Ini menjadi momen penting untuk menggalakkan local pride. Jika ada tetangga atau teman yang kehilangan pekerjaan lalu berjualan, bantulah mereka dengan membeli produknya. Lalu, sebarkan informasi jualan tersebut di media sosial. Seperti yang diketahui, membangun hubungan baik dengan banyak orang, merupakan investasi terbaik yang mudah dilakukan. Dengan berhubungan baik juga, nantinya akan saling terbantu dan membantu selama masa resesi.Jika ada brand lokal yang difavoritkan, misalnya produk fashion, seperti baju atau sepatu, bisa membantu membeli produk mereka. Ini artinya membantu menghidupkan UMKM dan kegiatan ekonomi.

Masalah lain muncul saat kita fresh graduate, besar kemungkinan lapangan pekerjaan tidak banyak dan harus bersaing dengan angkatan kerja terkena PHK yang kaya pengalaman. Tips ketujuh, terus belajar untuk mengembangkan diri. Salah satu hal yang bisa dilakukan kala resesi adalah terus belajar guna meningkatkan kemampuan dan kualifikasi diri. Sehingga akan tetap relevan di lini karier yang sesuai dan mengecilkan kemungkinan untuk menjadi korban pemecatan pekerjaan.

 

Kesimpulan

Ketidakmampuan pemerintah mengatasi pandemi Covid-19 membuat Indonesia disinggahi badai resesi. Sekalipun pernah mengalami resesi dan mampu melewatinya, kita harus tetap waspada agar resesi ini tidak berkepanjangan. Karena resesi dapat menjadi malapetaka bagi 260 juta lebih rakyat Indonesia yang menggantungkan harapannya pada langkah nyata pemerintah.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk bertahan di tengah resesi. Meskipun tidak disarankan untuk membatasi atau menekan pengeluaran secara berlebihan (ekstra hemat), kita harus tetap berjaga-jaga dengan memiliki tabungan yang memadai semasa pandemi. Selain itu, untuk tetap tenang dalam menyongsong resesi karena kepanikan dapat memperdalam dan memperpanjang masa resesi itu sendiri.

 

 

 

REFERENSI

 

https://www.businessinsider.com/what-is-a-recession

 

https://www.bps.go.id/pressrelease/2020/08/05/1737/-ekonomi-indonesia-triwulan-ii-2020-turun-5-32-persen.html

 

https://www.bps.go.id/pressrelease/2020/11/05/1738/ekonomi-indonesia-triwulan-iii-2020-tumbuh-5-05-persen--q-to-q-.html

 

https://ekonomi.bisnis.com/read/20200507/9/1237629/indef-stimulus-pemerintah-gagal-dongkrak-pertumbuhan-ekonomi-

 

https://www.bps.go.id/pressrelease/2020/09/01/1662/deflasi-terjadi-pada-agustus-2020-sebesar-0-05-persen--deflasi-tertinggi-terjadi-di-kupang-sebesar-0-92-persen-.html

 

https://internasional.kontan.co.id/news/resesi-akut-ekonomi-afrika-selatan-minus-51

 

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20201102174735-532-565049/menengok-sejarah-resesi-ekonomi-sejak-indonesia-merdeka

 

https://www.cnbcindonesia.com/news/20200828100730-4-182641/resesi-lagi-ekonomi-amerika-terancam-doble-dip-recession

 

https://kumparan.com/berita-hari-ini/sejarah-resesi-ekonomi-indonesia-1998-salah-satu-yang-terparah-di-asia-tenggara-1twQdSgfQQU/full

 

https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan-tahunan/perekonomian/Pages/LapTah%201998%201999.aspx

 

https://www.vice.com/id/article/g5pkwj/tips-mengelola-keuangan-selama-resesi-ekonomi-akibat-pandemi-corona

 

https://tirto.id/resesi-q3-2020-bukan-untuk-ditakuti-tapi-jangan-juga-diremehkan-f2Ly